Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

Resensi Film Phobia

Senin, 23 November 2009
4Bia (Thailand)]



4Bia (baca: Phobia) adalah film Thailand. Bagi anda yang kurang suka horror buatan Thai, boleh coba nonton film ini. Yang sudah terbiasa dengan horror apapun, ini adalah masukan bagus bagi kegemaran anda. Bagi yang demen film horror Thai macam “SHUTTER” , “ALONE” sangat wajib nonton film ini !! Paling nggak lo bisa nikmatin aktris2 Thailand yang bening2 hehehehehehehe
Tenang aja.. kali ini saya nggak akan bercerita tentang spoiler atau keseluruhan kisah dari film ini hehehe, anda harus mengalaminya sendiri untuk merasakan horornya film ini.. Yuk Mulai...

1. Happiness / Kebahagiaan
(sutradara : Youngyooth Thongkonthun)
Cerita Pertama dari 4Bia adalah kisah seorang gadis pengangguran, yang karena kecelakaan sehingga kakinya patah harus diam di apartemennya selama 3 bulan lebih. Disini yang sangat menarik adalah sangat minimnya dialog bahkan hampir tidak ada !! semua penuturan cerita dilakukan hanya dengan SMS. ya. SMS. Horor psikologis dengan SMS tentang seorang penggemar misterius yang berusaha mendekati si cewek karena sama2 kesepian.

2. Tit for Tat / Eye for an Eye / Mata balas mata
(sutradara : Paween Purikitpanya)
Kisah digencet / Bullying / Yang lebih kuat menindas yang lemah di Sekolah jaman SMU / SMP udanh nggak aneh dan ini dijadikan tema utama di cerita ke dua. Seorang yang ditindas akhirnya menuntut balas dendam atas perlakuan sekelompok geng yang menyiksanya. Yang saya sayangkan di bagian kedua ini adalah penggunaan model / animasi 3D untuk membuat hantunya.. walau diusahakan sedemikian mungkin agar seram, tapi malah nggak seram.. oh well .

3. In The Middle / Di Tengah
(sutradara : Banjong Pisanthanakun)

4 Orang anak muda kemping di tengah hutan di daerah Chiang Mai Thailand, yang kemudian mengalami kecelakaan saat semuanya tengah melakukan aktivitas Arung Jeram. Disini Filmnya cukup lucu dengan humor2 segar hehehe tapi cukup dengan akhir yang bikin penasaran juga.. Jangan pernah bercanda tentang kematian, menyangkut teman / orang terdekat anda ..

4. Flight 224 / Last Fright / Ketakutan Terakhir (diplesetkan dari Last Flight / Penerbangan Terakhir)
(sutradara : Parkpoom Wongpoon)

Tema Horror di atas pesawat rasanya jarang yah ? apalagi oleh film asia, film barat banyak mengadopsinya lewat jenis suspense, seperti Turbulence, Snakes on a plane, Red Eye..Disini seorang pramugari (Pim, diperankan Laila Boonyasak) berselingkuh dengan Suami seorang Putri Kerajaan. Celakanya sang putri tahu kejadian ini dan “diam-diam” sengaja terbang ke Thailand untuk “membereskan semuanya”. Namun di tengah cerita sang putri meninggal. Dan mayatnya pun harus dikembalikan ke negaranya.. Yang bikin menarik adalah karena “alasan” dia anggota kerajaan, maka mayatnya tidak boleh ditaruh di Cargo, tapi harus di duduk kan di ruang penumpang (tentunya 1 pesawat dibooking khusus utk jenasah si putri..) Disinilah Teror mulai terjadi ….

Parkpoom Wongpoon dan Banjong Pisanthanakun adalah sutradara dari film horror shutter dan alone
keren bgt film ini lucu, kocak, serem, campur aduk deh.Tapi kayanya ini udah mulai dijiplak deh ama film indonesia, taukan film baru judulnya takut atau face or fear yang terdiri dari 6 cerita yg dibuat oleh 7 sutradara itu mendapat idenya dari film ini yg berhasil bgt menggaet banyak penonton di sebagian asia tenggara, jadi kalo pengen nonton yg asyik n fun sambil serem-sereman ini yg cocok.Kalo buat aku film yg paling serem tuh last flight, wuihh serem abis, serasa kita yg ngalaminnya, kalo yg lumayan kocak tuh in the middle menjadikan semua film horror menjadi sebuah bahan candaan, kalo tit for tat tuh bagus juga cuma hantunya agak lucu jadinya melihatnya bukannya serem malah pengen ketawa, kalo happiness itu tuh buat penasaran abis tapi mencekam bgt.

Resensi Resident Evil

Kamis, 19 November 2009

Resident Evil: Extinction


2007
Sony Pictures
Jenis: Action/Adventure/Horror
Sutradara: Russell Mulcahy
Pemain: Milla Jovovich, Ali Larter, Oded Fehr, Mike Epps
Penulis: Paul W.S. Anderson




MPAA Rating: R


Merupakan adaptasi game survival horror yang sangat popular. Sekaligus merupakan sekuel kedua dari Resident Evil yang telah dimulai sutradara penggemar game Paul W.S. Anderson tahun 2002 lalu. Sejujurnya ini bukan franchise yang hebat sehingga butuh menelurkan banyak sekuel. Film pertama dan keduanya tidak terlalu bagus tapi tidak juga bisa dikatakan film buruk. Sehingga Saya punya ekspetasi nol terhadap Extinction.

Menyambung kisah sebelumnya, T-Virus semakin menyebar dan jumlah populasi zombie kian bertambah. Alice (Milla Jovovich) yang semakin tangguh saja bertemu dengan konvoi pencarian orang-orang tak terinfeksi yang dipimpin oleh Claire Redfield (Ali Larter). Di sini Ia bertemu lagi dengan Carlos (Oded Fehr) dan L.J. (Mike Epps), mempersiapkan keberangkatan menuju satu-satunya tempat yang tak terjangkit virus, yakni Alaska. Namun Umbrella Corp. tentu saja mengincar nyawa Alice yang merupakan asset berharga bagi perusahaan.

Memang merupakan sebuah kutukan dalam membuat film adaptasi game. Hasilnya hamper selalu buruk bahkan sebagian bisa dibilang film sampah seperti Mortal Kombat, Street Fighter dan DOA Dead or Alive. Anderson sangat beruntung di sini karena bisa menjaga kelas trilogy Resident Evil untuk tidak menambah panjangnya daftar film kelas B. Dan alasan membuat film ini? Hanya untuk mencari keuntungan semaksimal mungkin mengingat bujet yang disuntik tidaklah raksasa.

Sebagai sekuel yang tidak berdiri sendiri, agar cerita dapat dimengerti, penonton dipaksa mengikuti semua seri Resident Evil—walaupun Saya tahu sedikit melelahkan bagi non-fan. Seperti seri sebelumnya, Apocalypse, yang diangkat dari game Resident Evil Nemesis, Extinxtion juga berdasarkan salah satu seri gamenya. Dan kali ini Anderson mengangkat Resident Evil:Code Veronica. Sedikit janggal dengan absennya tokoh Jill Valentine (yang pada film Apocalypse diperankan Sienna Guillory) tanpa kabar. Padahal—maaf memberi spoiler—Ia terlihat bersama-sama Carlos pada akhir film kedua.

Kemunculan banyak tokoh baru juga sedikit menambah semangat menonton film ini. Terutama pejuang berambut merah Claire Redfield yang diperankan si cantik berkepribadian ganda dalam sinetron Heroes, Ali Larter. Ada pula Albert Wesker sebagai mastermind antagonisnya. Dan naskah cukup berani mengakhiri hidup beberapa karakter.

Ceritanya memang diubah karena pada dasarnya pondasi yang dibangun pada jilid pertamanya itu tidak banyak mengambil unsur-unsur gamenya. Sehingga alur harus mengikuti arusnya dan beginilah hasilnya. Mengandung sedikit “twist” tapi bisa dibilang buruk. Sekaligus inilah film Resident Evil terburuk yang pernah ada.

Gamenya mungkin menyeramkan tapi tidak untuk filmnya. Karena Anda tahu sendiri betapa lucunya membuat horror siang-siang di padang pasir. Jelas tingkat kengeriannya adalah nol. Tapi seperti dua prekuelnya yang kita ketahui, Resident Evil versi film tidak sepenuhnya film horror bertemakan zombie. Tapi lebih condong bergenre aksi. Begitu juga dengan yang ketiga ini. Aksinya seperti aksi sirkus dengan editan cepat.

Berbicara masalah genre aksi horror, Saya memiliki pandangan lain terhadap rekayasa Anderson ini. Berdasarkan alurnya, pandangan Saya terhadap jenis film ini adalah menambah genre fantasy dalam serialnya. Ya, Alice adalah penyihir. Ia memiliki kekuatan super selayaknya Invisible Woman dalam Fantastic Four. Kemudian Saya sendiri merenung dan bertanya dalam hati: Film yang Saya tonton ini film sihir atau film zombie?

Hal yang sangat mengganggu dalam film ini adalah terlalu banyak promosi. Dimana-mana dan disetiap saat, tulisan Sony selalu menghiasi layar. Saya tahun ini adalah persembahan Sony Pictures, yang jelas hal itu sangat mengganggu. Itu membuat Saya teringat dengan Casino Royale yang juga banyak berisi promosi. Dan hebatnya itu keluaran Sony juga. Cara yang “tepat” untuk promosi.

Di akhir tulisan juga membicarakan akhir filmnya. Setelah melawan boss yang tidak tangguh, endingnya dibuat menggantung. Sudah dipastikan ini bukan trilogy lagi karena plot baru sudah dibuka—tepatnya diperpanjang—untuk film keempat. Dan sepertinya film keempat akan lebih baik jika tokoh-tokoh top seperti Chris Redfield dan Leon dimunculkan bersama Jill serta didukung naskah yang kuat dan tidak terlalu teknologi tinggi. Bagaimanapun juga film zombie tradisional memang lebih baik. Filmnya sendiri tidak mengecewakan, itu karena Saya tidak berharap muluk-muluk. Bukan merupakan film wajib tonton. Disamping Milla Jovovich dan Ali Larter sangat cantik di sini. Terutama melihat kembali Milla berkostum merah seperti pada film pertamanya dan telanjang seperti film keduanya.

INUYASHA

Senin, 16 November 2009

Ayah Inuyasha adalah siluman yang amat disegani pada masa hidupnya, dan ibu Inuyasha adalah seorang putri bangsawan yang tersohor kala itu. Meski begitu, karena ibu Inuyasha adalah manusia dan ayahnya adalah siluman, cinta mereka berdua ditentang oleh berbagai pihak. Pada akhirnya, ayah Inuyasha meninggal karena terluka akibat melindungi Inuyasha dan ibunya di hari kelahiran Inuyasha. Ternyata bukan hanya hari kelahiran Inuyasha saja yang begitu tragis. Masa kecilnya dipenuhi dengan kesengsaraan, manusia disekitarnya takut padanya karena ia menjadi setengah siluman, dengan separuh darah siluman dan separuh manusia. Tetapi, di antara kaum silumanpun, Inuyasha malah dianggap manusia lemah dan selalu dikejar oleh mereka. Mungkin, inilah yang membuat Inuyasha tumbuh menjadi cowok kasar yang cuek pada orang-orang disekitarnya. Meski begitu kawan, ternyata ia tidak pernah membenci ibunya.

Mungkin, dimulutnya dia bisa saja menghina ibu atau ayahnya sendiri dan berlagak egois, tapi kenyataannya?

Beberapa waktu setelah segelnya dibuka oleh Kagome, kakak tiri Inuyasha, yang berasal dari lain ibu, yakni Sesshomaru, datang dan menanyakan pada Inuyasha letak makam ayahnya. Sayangnya, Sesshomaru tidak bertanya dengan cara yang baik. Ia membawa seseorang yang katanya dibawanya dari dunia arwah… yup, ibu Inuyasha. Dan Inuyasha, yang tidak tega melihat ibunya diperlakukan buruk oleh Sesshomaru itupun menyelamatkan ibunya. Tanpa tahu bahwa itu bukan ibunya, melainkan Muonna. Siluman yang terbentuk dari kumpulan roh wanita yang kehilangan anaknya dalam perang. Tapi karena itulah, karena dia adalah siluman yang terbentuk dari kasih sayang ibu terhadap anaknya, meski ia sempat menipu Inuyasha atas perintah Sesshomaru, Muonna akhirnya hancur karena melindungi Inuyasha dari Sesshomaru…